Diposkan pada Tak Berkategori, Waktu Luang

Kitalah sang penguasa…huaahhaha

Berawal dari hot topic awal Minggu ini, yaitu Liam Gallagher salah satu sempolan eh pentol -an Oasis konser di Jakarta, hampir semua media massa memberitakan dengan penuh semangat. Trus mulai lagi deh orang – orang bernostalgia dengan musik-musik lawas era taun 80 -an dan 90-an. Dan tentu saja membandingkan dengan musik – musik masa kini yg bagi sebagian generasi membosankan.

YESS….simbok mengakui pada jaman radio lalu dilanjutkan dengan MTV ngehitz musik-musik nya sungguh bervariasi. Taun 80an tidak hanya didominasi oleh band rock berambut gondrong macam Rollingstone dkk, tapi juga rame oleh musik pop by King of Pop Michael Jackson. Musik mendayu pun juga ga malu unjuk gigi dengan adanya si ganteng bersuara aduhai mas Bryan Adam. 

Lanjut di tahun 90an komposisinya bertambah dengan adanya boy/girl band macam Boyzone, BSB, Spicegirl, dan kawan-kawan. Ada juga diva-diva bersuara melengking sampe ke ujung bulan macam Mariah Carey, Whitney Houston, dan tentu Tante Celine Dion. Belum lagi wajah tampan bersuara merdu Om-Om Latino Ricky Martin dan Antonio Banderas. Daaaan semakin komplit dengan adanya lagu ajep-ajep super hits by House of Pain dengan Jump Around nya. Superrr lengkap bukan…..

***

***

Nah,, banyak yg nyinyir dengan musik jaman now yg monoton. Dalam 10 tahun terakhir musik pop begitu-begitu aja. Begitu K-Pop menyerbu seluruh dunia, Indonesia juga tak kalah latah ikut ngeboy/girl band dengan kualitas apa adanya. K-Pop agak mereda, lalu muncul lah DJ-DJ ternama dengan lagu ajep ajep Electronic Dance Music yg merajalela di seluruh dunia. Kalo ga salah EDM ini booming hampir 4-5 tahunan, daaaan sampe sekarang simbok nyetel Breakout (tayangan musik satu-satunya yg logis) isinya masih ajep-ajep aja. Hampir semua penyanyi pernah feat dengan DJ ituh. Awal-awal senang, tapi kalo kelamaan ajep-ajep kan bisa tengeng leher.

Source image: lupadaratan.com

Tapi coba kita lihat dari sisi lain. 

Dengan adanya kecanggihan teknologi, kenapa musik terasa sangat monoton. Bukan kah seharusnya lebih bervariasi karena adanya kemudahan ini. 

Justru disinilah masalahnya.

Jaman dulu, industri lah yg menciptakan pasar. Industri mengeluarkan musik rock, pop, grunge, EDM, Melayu, dangdut atau tarling pun kita tinggal terima. Ibaratnya kita para penikmat musik disuapin sama industri. Kita bisa melahap sampe kenyang, atau kadang-kadang kita muntahin kalo ga suka. Tapi tetap aja kita nyicip, suka atau tidak. Media massa hanya satu arah membuat kita jadi objek saja. 

Lain dengan sekarang. Teknologi membuat kita benar-benar memilih apa yg mau kita dengar saja. Kita downloads atau streamingnya hanya yg benar-benar kita inginkan. Lama-lama industri akan HANYA mengeluarkan apa yg sebelumnya kita inginkan. Ibaratnya, kita udah ga mau disuapin, maunya makan sendiri. Dan maunya cuma bakso aja, ga mau sayur, lama kelamaan industri akan malas masakin kita sayur, mending ngasih bakso aja terus-menerus. Padahal kita sebenarnya udah jenuh yesss dengan bakso. 

Ini lingkaran setan. Dan sesungguhnya kita lah para setan itu. Kita lah penguasa industri sebenarnya. Huaaahaaahaa!!!

Iklan
Diposkan pada Tak Berkategori

Desember Ceria

Tak ada hujan di penghujung tahun 2017, Desember ini. Ceraaah ceriiiiaa. Pas buat yang punya segudang acara untuk menikmati malam tahun baru. Pas juga buat yg punya cucian menumpuk macam simbok ini. Belum juga tengah hari, eh semua udah keriiiiiing dan wangiiii…syuuukaa deh 😀

Beberapa jam sebelum pergantian tahun simbok mau mengingat-ingat kejadian menarik sepanjang tahun ini:

  1. Haykal Bramasta Saputra, putra kedua simbok lahir di akhir Maret pas pada saat liburan Nyepi. Sepi beneran Rumah sakit dan tenaga kesehatannya. Tapi Alhamdulillah si bocah lahir dengan selamat dan menggemaskan. Sekarang, udah gedhe lincah, aktif dan trengginas..roooaaaaarrrrrrwwrr
Diposkan pada Tak Berkategori

Khilaaf nak…

Kalo ada yg jual stok sabar di Shopee, simbol mau borong deh semua nya. Ga pake ngecer, langsung paket grosir angkut semuanya.

Seiring bertambah pintarnya den mas Prana dan adek Brama, stok sabar simbok mulai terkikis sedikit demi sedikit. Apalagi saat capek banget dan ndilalah si bocah kok yaaa njaraak plus gregetne. Pengennya sih yaa si bocah itu nurut terus tiap hari tapi yaaa itu utopis beibeeh. Mana ada bocah sehat nan lincah manut nurut dolak dolok gitu. Yang ada jelas menguji iman dan Imin.

Nah kalau sudah emosi di ubun-ubun kita bisa apa dong? 

Istighfar dalam hati emang obat paling manjur. Seperti yg terjadi pada simbok sore ini. Setelah khilaf nyeplesin bokongnya bocah, simbok istighfar mohon ampun dan minta nambah stok sabar ke Yang Nduwe Urip. Lalu yang terjadi kemudian adalah penyesalan tak berujung. Kok bisa kitaa sebegitu tega nyeplesin bocah berwajah lucu macam itu. Ya Allah ini lah kerjaannya syaitan. Mohon hamba ini selalu diingatkan.

Diposkan pada Tak Berkategori

Tak Ada Tokoh Idola Jaman Now

Dulu yaaa selain makanan dan minuman favorit, tokoh idola juga jadi poin penting kalo kita mau tuker-tukeran biodata di binder ato di halaman sahabat pena majalah kuncup/Bobo. Itu penting. Karena dengan lihat “tokoh idola” bisa-bisa kita semakin akrab-ikrib dengan si pemilik biodata hanya berdasarkan “Eh ternyata kamu juga ngidolain Sherina yaaa. Aku juga loh…”

Kakak sepupu yg sedang kuliah di Jember pertengahan tahun 90-an bisa surat-menyurat secara akrab dengan Guru Bahasa Inggris SMP Mbakku dengan premis yang sama: penggemar Jon Bon Jovi. Tidak terhitung berapa poster bung Jon terkirim antara Jember dan Madura. Tokoh Idola menyatukan mereka.

****

***

Now…now…and now…

Waktu berlalu.

Idola muncul tak hanya di tivi, koran, majalah tapi di media yg lebih masif – SocMed Yang Agung beserta pengikutnya Maha Benar Netizen dengan segala ocehannya.

Idola selalu muncul di setiap generasi. Tapi boleh dikata Idola yg muncul di jaman now adalah yg paling sial. Betapa tidak sial, Idola jaman now harus rela jika jutaan Maha Benar Netizen membuntuti setiap detail kehidupannya. Jika si Idola artis panggung, dia harus siap dilihat secara menyeluruh bukan hanya aksi panggungnya, tapi perihal apa bajunya, lagi makan apa, dengan siapa, kalo angop gimana, kalo ngupil gimana, dan seterusnya akan dalam pengawasan Maha Benar Netizen. Bisa jadi hanya karena salah angop – yang seharusnya mangap keatas, tapi ini mangap kebawah- , karir ciamik yang dibangun bertahun-tahun habis karena komentar Netizen “iiiih angopnya aneh, nggilani” dan viral. Maha Benar dan Kuasa Netizen.

Belum lagi jika sang Idola adalah tokoh Agama, Ustadz, Kyai, Ulama yg disegani, akan lebih agresif lagi Maha Benar Netizen menghakimi. Dengan dalih belio lebih mengerti Agama, maka hujatan dan penghakiman massal akan semakin kencang menghadang. Padahal kita semua tahu tak ada manusia yang sempurna.

Tak kurang beberapa diantaranya meredup bahkan mati karirnya. AA Gym dengan kasus poligami nya, Kyai Sejuta Umat Zainuddin MZ dengan kasus nikah nyirih (eh apa perkaos siihh – btw udah di close kayaknya nih case), dan yang teranyar Ust Arifin Ilham dengan nikah ketiganya. Emang kasus AA Gym dan Kyai Zainuddin MZ terjadi sebelum era sosmed merajalela, tapi waktu itu infotaintment lagi jaya-jayanya. Sami mawon.

Lebih horor lagi jika sang Idola terjun ke dunia politik. Alamat karir dan nama bagus berpuluh tahun bakal hangus hanya dalam jari-jemari Maha Agung Netizen. Dahlan Iskan misalnya. Sebelum terjun ke politik, citranya selalu positif. Di Jawa Timur jadi tokoh idola hampir semua kalangan. Begitu jadi CEO PLN yg politis juga lanjut ke Menteri dan cita-cita kursi Presiden, nama baik runtuh perlahan-lahan. 

Nama berprestasi lain juga begitu. Sebut saja Anies Baswedan dengan Indonesia Mengajar -nya, Sandiaga Uno dengan Adaro -nya, Basuki Tjahaja Purnama dengan e-birokrasi -nya. Mereka, kalo boleh jujur adalah pribadi yg berprestasi di bidang nya. Tapiii yaa ulah hater yg gonna hates hates hates memang bikin manusia seakan penuh dosa.

***

Tak bisakah gaeees, kita menghargai seseorang karena karya nya sahaja??

Diposkan pada Tak Berkategori

Suro dan Angkringan

Sekitar awal tahun 2000an, dua perguruan pencak silat di Madiun sekitarnya Setia Hati Terate dan Setia Hati Winongo pada puncak kejayaan. Follower dan subscriber keduanya merata di seluruh wilayah Madiun, Magetan, Ponorogo, Ngawi dan sekitarnya.

Kubu keduanya selalu bersebrangan mirip kubu Jokower vs Prabower  ato sebelas dua belas dgn kisah balajaer vs balanemo meski ga jelas apa yg dipermasalahkan. Padahal pucuk pimpinan SH Terate dan SH Winongo sudah beberapa kali bergandengan tangan mengimbau perdamaian, eeeh yg dibawah masih aja suka senggol bacok. Nah mirip lagi kan ama Jokowi – Prabowo yg pernah terlihat mesra tapi di sosmed pendukungnya bringas luar biasa.

Ga terhitung berapa kali tawuran antar pemuda kampung (yg beraninya keroyokan) terjadi hanya karena beda mahdzab perguruan. Duel di jalanan acapkali terjadi tanpa ada sebab yg jelas. Pendekar – pendekar amatir yg sebenarnya cuma bisa satu jurus pun bertebaran hampir di tiap desa. Sok jagoan? Pasti. Jangan ditanya level kemlinthinya.

Nah, tahun 2017 ada yg beda dengan perayaan Grebek Suro para pendekar-pendekar ini. Pawai berbaju hitam-hitam masih, konvoi di jalanan masih, sah-sah -an alias baiat masih. Tapiii udah ga serame dan seheboh dulu. Yg biasanya berpuluh-puluh truk mengangkut para pendekar merajai jalanan, ini cuma hitungan biji. Yg biasanya ada ratusan motor pendekar cabe-cabean plus terong-terongan, ini cuma ada puluhan motor. 

Ada apa ini? Kemana para cabe dan terong itu?

Simbok intip angkringan sebelah rumah. Oh mereka lagi ngupi Goodday sambil wifi-an….

Diposkan pada Tak Berkategori

Tingkat Kematangan Emosional Tidak Selalu Berbanding Lurus dengan Bertambahnya Umur

Senior Psikolog Keluarga, Ibu Elly Risman, sering menjelaskan bahwa pada usia kanak-kanak susunan syaraf di otak belum sepenuhnya tersambung sehingga jangan banyak berharap anak-anak akan mengerti sepenuhnya maksud atau keinginan orang dewasa. Singkatnya, anak- anak tidak memahami banyak hal. Karena keterbatasan tingkat pemahaman itu, maka emosi anak-anak lebih labil dibanding orang dewasa. Macam rollercoaster, bisa naik dan turun dalam sekejam. Habis nangis kejer berantem sama temen, dikasih permen bentar juga udah ceria lagi.

Itu kalo anak-anak…

Nyatanya, dunia dengan milyaran penduduk ini akan sangat monoton kalo selalu seiring dengan teori Ibu Elly Risman. Beberapa disekitar simbok mewarnai nya. 

Satu. Tadi malam, jam setengah 12 malam, seorang kawan aka senior berusia menjelang 4 dekade nge-share sebuah joke di group WA. Jam 5 pagi, ada teman yg merespon dengan emoticon smile. That’s it. Entah kenapa tiba-tiba kawan senior tadi langsung membalas panjang lebar karena merasa joke nya kurang lucu sehingga sepi respon, dan merasa bahwa group tsb sudah tidak cocok lagi dgn belio, plus kata-kata melow yg mengharu biru. Dan kemudian pamit, left group utk kesekian kalinya.

Jam 5 pagi. Separuh anggota group WA tadi berada di Jakarta yang mungkin sedang sibuk mengejar kereta, atau sedang hectic persiapan menuju jantung ibukota dan sederet kesibukan lainnya. Beberapa mungkin baru sempat baca WA berbelas-belas jam kemudian seperti saya…

Dua. Sodara Simbok, usia sepantaran dengan Krisdayanti, sering kali berantem/ribut dengan orang-orang disekitarnya baik sodara atau orang lain. Anehnya bukan hanya ribut dengan orang dewasa, ribut dengan anak-anak yg usia dibawah anaknya juga sering. Ribut masalah sepele yg tidak seharusnya diributkan oleh orang usia sematang itu…

***

Dunia memang ramai, penghuninya bermacam-macam. Lalu, apa yg bisa kita lakukan? Tersenyum, dan sadarilah bahwa apa yg ada di otak mereka memang hanya hak penuh Sang Kuasa.

Diposkan pada Tak Berkategori

Love is in The Air

Pagi ini bela-belain buka IG, rela kehilangan ratusan MB kuota demi liat update info mantenan Hamish-Raisa. Dan benar saja, 90% exploreku penuh sama foto dan video mereka…unch unch sekali dehhh…

***

Aaahh melihat kebahagiaan Hamish-Raisa, dan couple lainnya, selaluuuuu bikin hati adeeem ayeeemm dan senyum sendiri. Apalagi liat foto candid yg ga pernah bohong, bahagia itu nyata.

Eeeh tapi pas buka group WA, timeline FB, senyum bahagia memudar. Duh yaa, kenapa orang-orang diluar sana seneng banget memancing keributan, seneng banget mengumbar emosi, seneng banget perang-perangan buang-buang duit dan nyawa. 

Apa ga capek bela idola sedemikian ganasnya? Apa ga capek darah di kepala naik turun? Iyaa siih ada beberapa yg ambil untung dengan dibayar buat “ini”. Tapiii…apa enaknya perut kenyang dari hasil makan orang yg bermusuhan. Dan….apa ga capek mereka-mereka yg pintar ini bikin perang tahunan? Kok suka numpahin darah dimana-mana. Mau minyak dan gas seberapa banyak lagi biar puas ga perang terus?

Menonton orang berantem emang bikin pusing, apalagi terlibat di dalamnya. Amit-amit jabang bayi, jangan sampe deeh… Biarkan anak dan generasi ku nanti hidup dalam kebahagiaan.

Yuukk ah kita ceki-ceki foto yg bikin adem ayem. Abis Hamish Raisa, nanti bakal ada Emran-LCB yg pasti ga kalah unch unch unch……

PS: sweet dance nya Raisa Hamish mirip sama Anna and the King yaa..

Source: @thebridestory
Source: youtube/annaandtheking
Diposkan pada Tak Berkategori

Sibling Rivalry antara Prana dan Brama

Persaingan itu sejatinya bukan cuma claim Pilpres 2014 atau Pilkada DKI semata, tapi juga ada di rumah simbok saat ini.

Sumber: boredpanda.com

Sejak kehamilan kedua simbok mulai membesar, simbok sudah mengkomunikasikan dengan Mas Prana kalo nanti ada adek bayi bla bla bla dan bla bla bla..terus berlanjut sampai adeknya lahir, dan sampai saat ini.. Eh tapi namanya persaingan yaa teteeeeup ada, mungkin itu salah satu fitrah manusia.

Pertama kali dek Brama menyusu, mas Prana langsung nangis, ngiri. Langsung deh dibawa kabur sama Yangti. Lama kelamaan dikasih pengertian, mas Prana mau mengerti. Tapi setiap adeknya nyusu selalu bilang gini “adeeek..tian (gantian)”. Trus kadang bilang ” adek..bobok..tian”. Oke deh abis nenen adek bobok ditaruh dulu, lalu mas gantian nenen 🙂

Dan Alhamdulillah, persaingan itu hanya ada di urusan pernenenan, setidaknya sampai saat ini. Masalah lain mas Prana cukup mengerti. Simbok gendong-gendong pun mas Prana ga masalah, malah sering gemes minta cium-cium dek Brama.

Kebetulan minggu lalu simbok ikutan kulwap ngebahas sibling rivalry by Mbak Binky dari Rumah Dandelion

Dari Kulwap tersebut inti dalam Sibling Rivalry ini adalah komunikasi baik antara ayah-ibunya ke kakak dan adek, maupun komunikasi antara suami istri dalam berbagi peran.

Sumber: boredpanda.com lagiii

Paling menarik dari kulwap adalah sesi tanya jawab. Macam-macam masalah aka curhat peserta dibahas dengan menarik dan solutif. Dan dari situ simbok memahami bahwa setiap anak itu unik, tingkahnya macam-macam yang harusnya diatasi dengan teknik parenting yang bermacam-macam pula. 

Nah bagi mbok mbok yang berencana nambah krucil atau yg saat ini senasib sama simbok, boleh lah ceki ceki dulu di gambar berikut untuk nambah wawasan.

PS: materi dicomot dari Rumah Dandelion yaaa

Diposkan pada Tak Berkategori

Politik Biner dan Roda yang Berputar

Semenjak pilpres 2014, politik di Indonesia menjadi Biner. Kalo engga 0 ya 1, kalo engga Jokower ya Prabower, kalo engga Panasbung yaaaa Panastak, dst… Golongan yang 0,5 ato 3/4 adaa siii tapi duikiiit banget sampe tidak terdeteksi. Setidaknya itulah pengamatan saya via medsos dan warung sekitar. 
Dampaknya, kalo salah satu menang otomatis pihak satunya jadi oposisi (bahasa halus) atau hater (bahasa riil :p)
Waktu pilpres 2014 posisi saya adalah Jokower ditengah-tengah keluarga besar yang Prabower garis keras dan suami yang juga Prabower garis halus (yaaiyaalaah masak mau garis keras, Inga Inga istri selalu benar :p)
Begitu Jokowi menang tentu saya senang. Tapi senangnya cuma seminggu doang, karena setelah itu bully an datang menyusul kebijakan Jokowi yg sampe sekarang yaaa gituuu deeh…

Pas kumpul-kumpul keluarga saat lebaran “Habislah Saya”. Semua mem-bully. Mulai dari  Listrik Naik, Moratorium PNS, Daging Sapi Naik, Sertifikasi Guru, program BPJS, dll. Padahal saya cuma Jokower abal-abal alias simpatisan doang, nyoblos engga. Gimana kalo Jokower sejati? Bisa dicincang sayaa..wkwkw.. Ini juga terjadi pada teman-teman di group WA dan fesbuk saya. Ada yg dibully, ada yg mem-bully.

Padahal sewaktu sodara ada yg terbantu dengan program perumahan murah Jokowi, ga ada tuh ucapan thanks semisal “aku baru beli rumah program Jokowi, presiden idolamu itu. Thanks yaa” wkwkwkwk. Elek dicacat, apik yo sek dihujat…naseeb di team yg menang yaa gitu.

Dan bully an itu terus eksis sampe……..Pilkada DKI tiba……

Nah rata-rata, yang ex Prabower menjelma menjadi anti-Jokowi sekaligus anti-Ahok dan otomatis menjadi team Anies. Ga usah dibahas betapa seru nya pergulatan team anti-Ahok dan team pro-Ahok selama pilkada DKI ini. Keseruan mereka cuma bisa ditandingi keseruan kisah Mulan vs Maia atau kisah Aniston vs Jolie (so last year mbok, sekarang eranya Gigi vs Ayu Ting Ting…iyaa deeh). 

Yang anti Ahok aka team Anies mem-bully setiap kebijakan yg ada, mau itu benar, separo benar, ato yg jelas keliru… Sebaliknya yang pro Ahok sibuk cari pembenaran sana sini situ..dst 

Nah, kemarin hari Rabu sore setelah semua lembaga survei mengumumkan hasil quick count yang dimenangkan oleh pasangan Anies – Sandi, roda kehidupan itu benar-benar berputar. Team pro-Ahok yg sebelumnya menjadi sasaran bully, sekarang ganti mem-bully bahkan saat pengumuman pemenang secara resmi belum keluar. Tengok saja, sudah berapa banyak status DP rumah 0% yg menagih janji ato sarkas terhadap janji Anies. 

Jadiiiiiiiiii buat team anti-Ahok sekaligus team Anies, nanti banyak bersabar dan istighfar yaaa…karena bully-an akan datang menghadang, setidaknya sampe pilpres 2019 mendatang.

***

“Lha sekarang posisimu dimana mbok?”

“Yoo bukan dua-duanya laah, wong simbok cuma penonton DKI sambil nungguin anak naek odong-odong”

*ditulis pertama kali di fesbuk eike