Diposkan pada Tak Berkategori

Rumah, a house or a home?

Saat kita mau beli/bangun rumah, tujuannya apa? Build/ buy a house or home?

Survey random simbok menyatakan: kalo itu rumah pertama, pasti beli as A home. Tapi kalo itu rumah kedua, ketiga dst, rumah tsb as A house only.

***

Simbok sekitar 4 tahun lalu pontang panting cari rumah sama suami di daerah Jakarta coret. Hampir tiap minggu cari rumah mini yg sesuai sama celengan ayam simbok. Tentu juga mempertimbangkan cicilan KPR yg sanggup kita tanggung untuk waktu yg beranak. Berat? Iyes. Dan lebih menyesakkan kalau pas lagi survey banyak rumah kosong yg ga dihuni pemiliknya karena itu rumah only as A house. Bisa jadi itu rumah ke lima pemilik. Alasan klise nya yaaaa INVESTASI!!!!

Duit ente ga akan berkurang, bahkan nambah dengan punya banyak rumah. Makanya banyak iklan bilang, Senin Harga Naik. Masif dan meracuni otak. Kesimpulan singkat, ente akan kaya raya kalo punya banyak rumah!!

Oh really dear….

***

Sekali lagi, simbok ga punya data akurat untuk ini. Simbok ga melakukan survey statistik secara detail (emang simbok pegawai BPS apa). Tapi ini murni pengamatan simbok.

Yang tajir, sudah pasti punya banyak aset termasuk rumah. Tapi untuk bisa tajir, bukan dengan memperbanyak rumah. You got it?!

Kalau udah punya rumah tinggal as A home, dan masih punya sisa duit melimpah turah turah. Tentu pilihan terbaik untuk sugih 7 turunan adalah investasi duit tersebut buat buka usaha. Puter lagi duitnya sampe beranak Pinak bercucu cicit. Apakah ini mudah? Tentu tidak. Berdarah-darah iyes. 

Kalau duitnya masih melimpah lagi. Bikinlah usaha di bidang yang lain. Terus menggurita dan bikin kerajaan bisnis. Selain bikin sugih, bisnis juga membantu buka lapangan pekerjaan kan? Coba hitung, berapa banyak kita bisa menghidupi orang plus keluarganya. Malaikat Nakir pun akan kewalahan mencatat kebaikan kita.

Ini beda kalo pola pikirnya kebalik, “Perbanyak rumah/aset bikin kaya”

Pertama, ini terjebak sama iklan-iklan pengembang raksasa yg seenak udelnya bikin harga rumah. Harga yg ngatur dia, yg naikin dia, no rules at all. Yg lain mulai dari pengembang ecek-ecek, sampe orang-orang yg punya beberapa rumah, akan mengikuti standar harga nya dia. Pasar dalam genggaman nya, tanpa ada interupsi. Ini buruk, buruk sekali!!

Kedua, rumah adalah kebutuhan pokok manungso. Termasuk sandang, pangan lan papan. Boleh berbisnis di tiga hal tadi, tapi mbok yaa beretika. Jangan bikin bisnismu mencekik kehidupan orang lain. Kalo udara yg kita hirup, sinar mentari yg hangat, dan air yg diminum bisa berbagi, kenapa tidak dengan tanah yg dipijak dan atap yg bernaung dibumi ini untuk kita bagi. Toh, masih banyak bidang usaha lain yg bisa dieksplor.

***

Hal kecil yg bisa kita lakukan kalau kita terlanjur  punya banyak rumah adalah jual rumahnya dengan harga yg wajar ga mencekik. Sell a house for being a home for others.

Iklan

Penulis:

mom of 1 son, dreamers, orang yang hidup dilingkungan M

2 tanggapan untuk “Rumah, a house or a home?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s